Orang Manggarai: Garis Wallace Migrasi Manusia Modern

wisataziarah.com . Orang Manggari itu unik. Tidak terlihat seperti orang Flores lainnya. Tapi ciri Floresnya masih sangat kuat. Bagi saya, ditinjau dari persebaran manusia, Orang Manggarai merupakan Garis Wallace Migrasi Manusia Modern. Pada kesempatan ini, kami presentasikan asal-usul orang Manggarai.

Keberagaman Orang Flores

Demi mudahnya, ketika memperkenalkan diri, orang Flores akan mengakui mereka orang Flores. Namun, ketika berinteraksi dengan sesama Flores, mereka lebih mengasosiasikan diri dengan sukunya masing-masing.

Flores yang relatif kecil untuk ukuran pulau-pulau besar di Indonesia dihuni oleh aneka suku dengan ragam budayanya masing-masing.

Pulau Flores didiami oleh beberapa suku, di antaranya Manggarai, Ngadha, Nagekeo, Ende Lio, Sikka, Larantuka dan Lamaholot. Dari berbagai sudut bahasa dan budaya, Flores terdiri dari beberapa etnis, yaitu: etnis Manggarai Riung (yang termasuk bahasa Manggarai, Pae, Mbai, Rajong dan Mbaen).

Etnis Ngadha-Lio (terdiri dari kelompok bahasa Rangga, Maung, Ngadha, Nage, Keo, Palue, Ende dan Lio), Mukang (termasuk bahasa Sikka, Krowe, Mukang dan Muhang). Etnis Lamaholot (yang terdiri dari etnis Lamaholot Barat, Timur dan Tengah) dan etnis Kedang (yang digunakan di wilayah pulau Lembata bagian selatan). 

Kami akan mendeskripsikan suku-suku asli yang mendiami Flores itu satu persatu. Mudah-mudahan dapat membantu pembaca yang terhormat untuk memahami budaya Flores secara lebih mendalam. Kami akan memulai dari Flores bagian barat.

Manusia Flores: Asal-Usul Orang Manggarai

Pulau Flores bagian barat didiami oleh orang-orang dari suku  Manggarai. Namun suku ini mungkin juga ada sedikit kaitannya dengan daerah Manggarai yang di Jakarta.

Asal-Usul “Manggarai” 

Mengapa disebut Manggrai? Paling tidak ada dua versi terkait penamaan “Menggarai” suku terbesar di Flores ini.

Versi pertama mengatakan bahwa Manggarai merupakan gabungan dua kata bahasa Gowa – Sulawesi Selatan,  yaitu Manggar, artinya sauh atau jangkar dan Rai artinya putus. Jadi menurut versi ini, Manggarai artinya jangkar putus.

Menurut cerita rakyat Manggarai, orang-orang Gowa berlayar ke arah selatan. Mereka menemukan sebuah pulau yang berhutan  sangat lebat dan sangat subur. Mereka berencana mendarat di daerah itu. Namun karena hujan badai yang sangat besar, jangkar mereka putus sehingga dengan segenap kekuatan berusaha menyelamatkan diri kembali ke laut lepas dan kembali ke tempat asal mereka.

 Kedatangan mereka sambut dengan sukacita mendalam oleh anggota keluarga.   Para pelaut itu mengatakan bahwa mereka menemukan sebuah pulau yang sangat subur dan berhutan lebat.  Mereka berusaha mendarat tetapi karena badai  besar  jangkar perahu putus sehingga mereka tak berhasil mendarat. 

 Demi mudahnya daerah itu mereka namakan Manggarai.  Kemudian mereka datang kembali dan selanjutnya daerah yang mereka datangi itu disebut Manggarai.

 Versi kedua mengatakan bahwa wa Manggarai merupakan gabungan kata Manggar dan Rai.  Versi ini mengatakan bahwa Manggar diambil dari nama batu yang dibawa oleh Empo Masur,  seorang keturunan Raja  Luwu. Dia adalah cikal bakal orang Todo – Pongkor dari Sumatera Barat. Manggarai menurut versi ini watu jangkar mengacu pada batu jangkar yang biasa digunakan untuk menahan Wangka ( perahu ) ketika berlabuh.   Sedangkan watu rai  adalah  batu asah yang digunakan untuk mengasah parang, tombak dan benda-benda tajam lainnya.  Kedua batu ini menjadi dasar pemberian nama Manggarai.

Asal-Usul Orang Manggarai

 Ada banyak versi yang berkembang tentang asal-usul orang Manggarai.  Ada yang mengatakan bahwa mereka keturunan Sumba,  Bima, Bugis Luwuk, Melayu Malaka atau Minangkabau.

Topi Manggarai – mirip kopiah: salah satu pengaruh Goa – Makasar

 Versi yang mengatakan bahwa orang Manggarai berasal dari Minangkabau berkembang di wilayah Todo – Pongkor.    Para tetua mengatakan bahwa leluhur mereka bernama Masur, salah seorang keturunan Raja Luwu.  Kemungkinan Masur  adalah seseorang yang yang diberi kepercayaan memimpin pasukan Kesultanan Gowa memasuki daerah Flores Barat tahun 1666. Pasukan Gowa ini memasuki wilayah barat Flores dari Warloka di Pulau Komodo lalu menelusuri  pantai selatan Flores dan mendarat di  daerah Iteng,  Satarmese sekarang.

Dari situ mereka bergerak ke arah pedalaman dan sampai di daerah Toddo – Pongkor.  Selanjutnya Todo – Pongkor dijadikan pusat kekuasaan  baru.  Pada mulanya Kesultanan Gowa dibawa perwakilan Masur hanya menguasai Flores barat bagian Selatan. Akan  tetapi tidak lama berselang mereka menguasai hampir seluruh daerah yang saat ini disebut Manggarai Raya itu.

 Pengaruh Kesultanan Gowa atas wilayah ini sangat besar. Selain harus menyetorkan upeti atau pajak ke Kesultanan Gowa yang diambil dari penduduk asli,  Masur juga menikahi perempuan penduduk asli.  Itulah mengapa orang Todo – Pongkor  mengatakan bahwa mereka berasal dari Minangkabau.

 Bila dilihat dari sisi historis pengakuan ini tidak seluruhnya benar. Paling tidak  ada  2 alasannya. Pertama perbedaan sistem kekerabatan antara suku Manggarai dengan suku Minang. Orang Manggarai menganut sistem kekerabatan patrilineal sementara orang Minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal.  Bagaimana mungkin orang Minangkabau membalikan sistem kekerabatan ini secara radikal, padahal mereka dikenal sebagai suku yang sangat menjaga tradisi nenek moyang?

Kedua,  pandangan ekonomis orang Minangkabau. Antropolog Maribert Erb mengatakan bahwa asal-usul orang Manggarai bukan dari Minangkabau karena belum ada bukti sejarah yang bisa memastikan bahwa orang Minangkabau pernah datang dan menetap di daerah Flores barat tersebut. Menurutnya, orang Minangkabau biasanya mendatangi suatu daerah dan menetap di daerah itu karena daerah tersebut mendatangkan keuntungan ekonomis.  Pertanyaannya,  untuk apa mereka datang ke Manggarai yang saat itu belum menunjukkan keuntungan ekonomis bagi mereka?

Karena dua alasan itu,  mungkin lebih tepat dikatakan bahwa orang Manggarai, terutama Todo – Pongkor merupakan hasil perkawinan penduduk asli dengan pendatang dari Minangkabau yang memasuki Flores Barat lewat penetrasi kekuasaan Kesultanan Gowa dari Sulawesi Selatan.

Secara geografis, pulau Sumba sangat dekat dengan Manggarai

Hipotesis ini membawa kita pada hipotesis lain yang mengatakan bahwa nenek moyang orang Manggarai berasal dari Sumba. Mereka meninggalkan Sumba dengan perahu dan berlayar ke arah utara. Tiba di Flores dan mendarat di sebuah daerah yang berhutan lebat dan subur.  Mereka tinggal di daerah itu, lalu sebagian berpindah secara nomaden memasuki pedalaman, menuju ke arah timur laut. Pada suatu saat mereka tiba di daerah yang saat ini bernama Mano. Dari situ, sebagian dari mereka bergerak ke arah barat dan akhirnya tiba di daerah yang sekarang bernama Ruteng.

 Versi ketiga mengatakan bahwa asal-usul orang Manggarai, terutama orang Cibal dari Makassar. Versi ini mengatakan bahwa orang-orang Makassar di utara Flores Barat bergerak menuju pedalaman dan tiba di daerah Cibal lalu mendirikan kerajaan di daerah itu.  Mereka inilah yang merupakan nenek moyang orang Cibal.  

Pendukung versi ini melihat adanya kesamaan kata-kata bahasa Manggarai dengan bahasa Makassar serta bentuk rumah panggung (  mmbaru ngaung),  selain kain sarung berupa songke ( lipa songke )  sebagai alasan.

Kampung Todo

 Namun ada catatan kritis yang harus dikemukakan terkait dengan versi ini. Adanya kesamaan kata-kata itu tidak berkorelasi langsung dengan kesamaan suku.  Mengapa? Karena ada juga kata-kata yang sama yang ditemukan di suku lain,  misalnya pada suku Ngadha di sebelah timur Manggarai.

BugisGoa/MakasarManggaraiNgadaIndonesia
Manukmanukmanuayam
lipalipalipa/towelipakain
nyarangjarangjarakuda
Lebih banyak ditemukan kesamaan kata antara Manggarai dengan Ngada, suku di timur Manggarai dibandingkan kesamaan kata-kata antara Manggarai dengan Bugis atau dengan Goa/Makasar sekalipun.

Versi keempat mengatakan bahwa  asal-usul Manggarai dari Melayu Malaka. Hingga kini belum ada fakta yang mendukung pandangan ini. 

Bila dipelajari secara detail, pendukung versi mana pun belum bisa mengungkapkan fakta-fakta yang meyakinkan terkait asal usul nenek moyang orang Manggarai . 

Tetapi bagi saya mungkin versi yang paling kuat dan mendasar adalah versi terakhir yang mengatakan bahwa asal-usul orang Manggarai adalah pendatang dari Melayu Malaka. 

Versi ini paling mendasar dan paling kuat  berdasarkan teori penyebaran manusia modern seperti yang dikemukakan oleh teori Out of Africa.  

Peta migrasi manusia modern menurut teori Out of Africa

Katakanlah kalau semua versi yang beredar itu benar,  itu semakin menunjukkan bahwa sebetulnya tidak ada satu suku Manggarai yang murni.  Yang ada adalah kelompok-kelompok pendatang yang menempati wilayah tertentu. Dalam waktu  relatif panjang kelompok-kelompok itu mengembangkan adat-istiadat dan pusat kekuasaan sendiri-sendiri serta saling berinteraksi dalam waktu yang relatif lama sehingga menghasilkan sebuah  realitas orang-orang orang Manggarai seperti yang dikenal dewasa ini.

Dalam wawancara yang dilakukan  antropolog Maribeth dengan beberapa tetua Manggarai tentang asal-usul mereka,  sering didapati jawaban berupa dongeng atau bahasa kiasan.  Satu di antaranya adalah cerita tentang orang Manggarai berasal dari bambu.  Baginya, jawaban itu  hanya mengungkapkan bahwa mereka sudah lama menetap di daerah tersebut sehingga tidak tahu lagi dari mana mereka.  Selanjutnya ia mengatakan bahwa keaslian orang Manggarai adalah suatu mitos. Semakin kita bertanya tentang keaslian mereka maka kita tidak akan pernah menemukan jawaban yang final. 

Manusia Flores:  Asal-Usulnya Sama

Untuk mengetahu asal-usul orang Manggarai mungkin lebih jelas kita menggunakan pendekatan teori Out of Africa; sebuah teori baru yang  mengatakan bahwa seluruh seluruh ras manusia modern berasal dari Afrika.

 Dalam dunia akademis teori ini lebih diterima daripada teori multiregional ( kontinuitas regional ), sebuah teori yang mengatakan bahwa ras ras manusia modern dewasa ini merupakan hasil evolusi manusia purba yang terjadi secara independen atau sendiri-sendiri di banyak wilayah di muka bumi ini. Teori ini tidak tahan uji karena tidak mampu menjawab masalah adanya missing link antara manusia purba dengan manusia modern.

 Berbeda dengan teori Multiregional yang lebih bersifat spekulatif karena hanya mendasarkan diri pada Teori Evolusi Darwin,  teori Out of Africa mendasarkan diri atas penelusuran genetik populasi manusia dengan menggunakan biologi molekuler. 

Teori ini menegaskan bahwa seluruh ras manusia merupakan hasil evolusi manusia modern ( homo sapiens ) dari benua Afrika  dan tidak mendapatkan turunan genetik dari hominid- hominid pendahulunya, seperti hominid Eropa (Naenderthal )  maupun  hominid Asia baik yang fosilnya ditemukan di Tiongkok  maupun di Jawa.

Dr. Alice Robert – salah satu pendukung Teori Out of Africa

Dalam bukunya The Incredible Human Journey, Dr. Alice Roberts, menelusuri sejarah migrasi manusia berdasarkan penemuan-penemuan tulang-belulang homo sapiens dan merangkainya dalam teori perjalanan manusia yang dimulai dari Afrika pada 150.000 tahun yang lalu.  

Dari penemuan-penemuan itu Dr. Robert dan para ahli lainnya membangun teori bahwa  seluruh ras manusia apapun budaya dan bangsanya,  berasal dari Afrika yang menyebar ke seluruh penjuru dunia.  Teori ini dibangun lewat penelusuran jejak DNA dari berbagai ras manusia di dunia dan metode yang menghubungkan iklim dunia pada masa itu dengan proses migrasi manusia.

Dr. Robert memperkirakan bahwa ini terjadi pada 70.000 tahun yang lalu,  ketika iklim bumi berubah dan Gurun Sahara menghijau beberapa ratus lamanya. Kesempatan ini memungkinkan sekelompok homosapiens Afrika melintasi Gurun Sahara dan menyebrang ke Jazirah Arab sebelah Selatan. Dari sana kelompok itu memecahkan diri; ada yang menuju ke timur dan ada yang menuju ke barat.

Kelompok yang menuju ke Timur, mencapai anak benua India melalui Timur Tengah dan mencapai Oseania melalui Indonesia. Diperkirakan 50.000 –  60.000 tahun yang lalu mereka telah sampai di Australia lebih dahulu sebelum menyebar ke wilayah Asia lainnya.

Paparan Sunda dan Sahul yang memungkinkan migrasi fauna & manusia

Pada zaman es ketika permukaan air laut lebih rendah, Indochina, Indonesia bagian barat dan sebagian kecil Filipina menyatu membentuk Paparan Sunda  yang dianggap sebagai cikal bakal negara-negara Asia saat ini. Australia dan Pulau Papua (New Guinea) juga bergabung membentuk Paparan Sahul  yang dipisahkan dari Paparan Sunda oleh selat Sahul.  Namun demikian beberapa kelompok manusia berhasil menyebranginya dan mencapai pulau-pulau di oseania.

 Sementara itu beberapa kelompok manusia juga meninggalkan Afrika menuju Eropa melalui bagian utara Laut Merah, Asia tengah dan Timur Jauh.  Tetapi lebih banyak yang menuju ke timur ke arah Paparan Sunda karena tertarik dengan iklim yang lebih bersahabat dan alam yang subur.

 Manusia Flores: Asal-Usul Orang Manggarai

Teori ini bisa membantu kita membangun sebuah hipotesa baru bahwa asal-usul orang Manggarai tidak bisa dipisahkan dari suku-suku lain di Flores. Mereka merupakan bagian dari manusia modern yang melakukan migrasi ke  Oceania sehingga Australia seperti yang dikatakan oleh Dr Robert di atas.

 Hipotesa ini diperkuat oleh beberapa kemiripan fisik dan bahasa antara suku-suku di Flores seperti yang telah dikemukakan di atas, terkait adanya kesamaan suku kata antara Gowa Bugis Manggarai dan Ngada.

Selanjutnya,  perbedaan-perbedaan lainnya muncul karena kenyataan historis lain. 

Para gadis Manggarai

“Orang Manggarai adalah sebuah melting pot. Tidak ada suku lain di Flores yang telah membangun Interaksi yang intensif dengan orang-orang di luar seperti orang Manggarai. Pada point ini, terjadi  interaksi yang intensif antara orang-orang yang lebih dahulu mendiami wilayah Manggarai dengan suku-suku yang datang kemudian. Hasil interaksi dengan “penduduk asli” itulah yang melahirkan versi-versi keaslian orang Manggarai seperti yang sudah dikemukakan di atas.” 

Dalam konteks ini, Manggarai adalah suku yang paling unik di seluruh Indonesia. Bisa jadi, Manggarai adalah semacam tanda “Garis Wallace” dan  “Garis Weber” dalam konteks penyebaran ras dan suku manusia di Indonesia.

Felix

Seorang Guru SMA, tapi pernah menjadi Tour Leader dan Tour Planer di sebuah biro perjalanan ziarah wisata Katolik. Selain Guru, mendedikasikan diri untuk menjadi seorang Blogger, khususnya ziarah wisata Katolik.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: