Komodo Dragon Seangkatan Dinosaurus Hanya Ada di Flores

wwisataziarah.com. Dinosaurus itu tinggal fosil. Sudah punah jutaan tahun lalu. Namun teman sengkatan dia masih ada loh. Namanua varanus komodoensis, Nama lainya  Komodo dragon. Sengkatan dinosaurus, hanya ada di Flores.
Tersembunyi selama jutaan tahun. Diperlakukan sebagai “saudara” oleh penduduk lokal. Mungkin kebijakan tradisional itulah, komodo dragon – binatang purba seangkatan dinosaurus dapat hidup nyaman di Pulau Komodo – Flores.
Sejarah mencatat, hewan yang dijuluki ‘dinosaurus terakhir di muka bumi’ itu baru dikenal  secara luas pada awal abad ke-20. 

Penemuan dan Perlindungan Komodo

Sejarah mencatat, hewan yang dijuluki ‘dinosaurus terakhir di muka bumi’ itu baru dikenal secara luas pada awal abad ke-20.

Pada mulanya, Pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia mendengar kisah rakyat Manggarai Barat – Flores soal ‘buaya yang hidup di darat’.  Penasaran oleh kisah itu, armada kompeni  di bawah pimpinan Letnan Steyn Van Hensbroek, seorang pejabat Administrasi Kolonial Belanda di kawasan Reo yang berlokasi di Manggarai Tengah bagian Utara saat ini, melakukan perjalanan ekspedisi penelurusan  untuk menemukan makhluk “mitologi” naga raksasa itu. Maka, pada  tahun 1910 mereka menemukan makhluk misterius yang tidak dikenal dunia luas hingga dewasa itu. 

Oleh Letnan Steyn Van Hensbroek, sampel penemuan kadal raksasa itu dikirim ke Bogor yang merupakan pusat studi dan penelitian ilmiah untuk Hindia Belanda saat itu. Berdasarkan sampel itu, tahun 1912, Peter A. Ouwens, Direktur Museum Zoologi di Bogor mempublikasikan Komodo kepada dunia lewat disertasinya.

Ia memberi saran nama untuk makhluk itu  raksasa itu “Varanus Komodoensis“. Dinamakan demikian karena makhluk ini termasuk dalam jenis kadal dan ditemukan di Pulau Komodo yang terletak di sebelah barat Flores.


Selanjutnya, beberapa ekspedisi melakukan penangkapan Komodo, entah untuk diambil kulitnya atau dibawa hidup-hidup. Sebagian untuk kepentingan pengetahuan, sebagian tentu saja sekadar untuk memuaskan rasa penasaran. Maraknya penangkapan tersebut menimbulkan kekhawatiran atas berkurangnya populasi Komodo. Menanggapi kekhawatiran tersebut, Pemerintah Swapraja Bima berinisiatif melindungi Komodo lewat satu Undang-Undang Perlindungan Komodo tanggal 12 Maret 1815. Namun, rupa-rupanya peraturan itu kurang efektif karena hanya diberlakukan untuk masyarakat biasa yang menjadi penduduk kesultanan Bima sehingga penangkapan Komodo masih tetap saja marak. 

Untuk mempersempit ruang kekebasan penangkapan Komodo, pemerintah Swapraja Manggarai pada tahun 1926 juga mengeluarkan peraturan serupa. Tahun 1930, Residen Flores juga memberlakukan peraturan yang sama. Dan, akhirnya tahun 1931 Pemerintahan Hindia Belanda memasukkan Komodo sebagai satwa yang mutlak dilindungi lewat  Undang-Undang Perlindungan Binatang Liar.


Upaya Memperkenalkan Komodo

W. Douglas Burden (left) with F. J. Defosse di  Komodo, 1926

Walaupun secara regional, hewan purba Komodo semakin dikenal, namun publikasi yang dibuat untuk masyarakat internasional oleh Peter A. Ouwens itu kurang menggaung baik di kalangan umum maupun di kalangan akademisi. 

Komodo baru semakin dikenal oleh dunia internasional berkat jasa Douglas Burden. Tahun 1926 Douglas Burden, seorang warga negara Amerika Serikat yang bekerja untuk  The American Museum of Natural di New York, melakukan ekspedisi ke Pulau Komodo untuk meneliti binatang purba itu bersama seorang herpetolog terkenal E.R. Dunn. Selama beberapa waktu mereka “menyepi” di Komodo, berinteraksi langsung dengan hewan purba Komodo dan mempelajari binatang langka itu dari dekat. Ketika kembali ke Amerika Serikat, mereka membawa pula materi-materi yang terkait dengan hewan itu, yaitu 12 spesimen yang diawetkan dan 2 ekor komodo hidup. 

Temuan W. Douglas Burden itu menarik perhatian dunia internasional sekaligus memberikan inspirasi bagi terbitnya film King Kong tahun 1933. “Komodo Dragon”, nama lain untuk Varanus Komodoensis atau sering disebut Komodo saja adalah nama yang pertama kali diperkenalkan oleh Douglas Burden. Selain memberi inspirasi atas di-release-nya film King Kong yang terkenal itu, ekspedisi Burden juga menghasilkan banyak publikasi. Ia bahkan menghasilkan sebuah buku yang sangat populer dan menjadi best seller saat itu, yaitu  Dragon Lizard of Komodo An Expedition to the Lost World of the Dutch East Indies”.


Namun ekspedisi-ekspedisi  selanjutnya terhenti semasa Perang Dunia II dan baru dilanjutkan tahun 1950-an sampai 1960-an. Sebuah ekspedisi baru pasca ekspedisi Burden dirancang untuk meneliti Komodo secara lebih luas dan mendalam. Ekspedisi ini jatuh ke tangan  keluarga Auffenberg, yang menetap selama 11 bulan di Pulau Komodo pada tahun 1969. Team ini berhasil menangkap dan menandai lebih dari 50 ekor Komodo. Hasil ekspedisi ini ternyata sangat berpengaruh terhadap meningkatnya penangkaran Komodo.


Asal-Usul Komodo

Secara alamiah, Komodo hanya ditemukan di pulau Komodo, Rinca dan Flores. Namun demikian, menurut penelitian para ahli tahun 2009 disimpulkan bahwa  Komodo  bukanlah hewan asli pulau-pulau itu.

Dari Australia


Perkembangan evolusi komodo sebetulnya dimulai dengan munculnya jenis Varanus di Asia sekitar 40 juta tahun silam. Hewan itu  lalu menyebar dan bermigrasi ke Australia sekitar 15 juta tahun  silam ketika terjadi  pertemuan lempeng Australia dan Asia Tenggara. Komodo yang sekarang ditetapkan sebagai Tujuh Keajaiban Dunia, diyakini berevolusi dari nenek-moyangnya di  Australia yang bermigrasi ke utara, yaitu ke pulau Timor, Flores dan sekitarnya sekitar 4 juta tahun silam. 

Ketika berakhirnya zaman es, hewan-hewan itu “terpaku” pada habitatnya. Rupa-rupanya Flores dan pulau-pulau di sekitarnya, terutama di bagian barat, memberikan lingkungan yang mendukung sehingga hewan itu tetap bertahan hingga sekarang sementara saudara-saudari mereka di tempat lain telah berubah menjadi fosil. 

Penggalian yang dilakukan para  palaeontolog dan arkeolog  Australia, Malaysia, dan Indonesia membuktikan bahwa tulang Komodo sama dengan tiga fosil hewan yang ditemukan di Queensland. Tentu saja hasil penggalian ini semakin memperkuat teori bahwa Australia merupakan tempat evolusi Varanus Komodoensis.

Lingkungan Fisik Flores Menghidupkan Komodo

Fosil yang ditemukan di Queensland itu juga menunjukan bahwa Varanus Komodoensisdi  Flores berasal dari Australia yang hidup empat juta tahun yang lalu. Para peneliti juga menemukan bahwa Komodo menyebar ke sejumlah wilayah dan sampai di Pulau Flores sekitar 900.000 tahun lalu dan bertahan hingga kini. Sementara di tempat asalnya, Australia, Komodo telah punah 50.000 tahun lalu bertepatan dengan tibanya manusia modern di Australia.

Saat ini, diperkirakan sekitar 4.000–5.000 ekor komodo masih hidup di alam liar. Hewan ini secara terbatas menyebar di pulau-pulau Rinca, Gili Motang, Gili Dasami, Komodo dan Flores. 

Meskipun demikian, ada keprihatinan mengenai populasi ini karena diperkirakan dari semuanya itu hanya tinggal 350 ekor betina saja yang produktif dan dapat memberikan keturunan yang baik. 

Bertolak dari kekhawatiran inilah, maka tahun 1980 Pemerintah Indonesia menetapkan berdirinya Taman Nasional Komodo untuk melindungi populasi Komodo dan ekosistemnya yang meliputi  beberapa pulau yaitu, Komodo, Rinca, dan Padar.


Fisiologi Komodo

Binatang Komodo yang sekarang semakin menarik banyak minat wisatawan ke Flores, secara umum memiliki panjang 3 meter dan berat maksimal kurang lebih  90 kg. Binatang ini termasuk spesies kadal terbesar dunia yang kini dinyatakan sebagai salah satu dari 7 keajaiban alam di dunia.


Komodo yang dipelihara di penangkaran atau di kebon binatang bisa memiliki tubuh yang gemuk dan berbobot berat. Namun di alam liar, secara umum komodo dewasa biasanya memiliki bobot tubuh seberat 70 kilogram. Berat ini ideal bagi Komodo liar untuk bertahan hiup. Ditambah dengan kaki-kaki yang kuat dan kokoh serta perut yang relatif ramping tidak menyeret tanah. Komodo mampu berlari dengan kecepatan 20 km/jam. Ini sangat cukup bagi Komodo untuk menyergap mangsanya.

Kekurangan Yang Menghidupkan

Namun demikian, Komodo bukan tanpa “kekurangan”. Komodo memiliki penglihatan yang buruk. Namun kekurangan itu diimbangi oleh kelebihan yang lain. Komodo memiliki lidah yang panjang, berwarna kuning dan bercabang. Sama seperti kadal pada umumnya, lidah itu difungsikan sebagai pendeteksi utama keadaan sekitarnya.


Komodo memiliki ekor yang sama panjang dengan tubuhnya. Ekor itu bisa digunakan sebagai penyangga tubuhnya untuk meraih mangsa di atas pohon. Bagi Komodo jantan, ekor itu sangat penting ketika berkompetisi dengan jantan yang lain untuk memperebutkan si betina pujaan hati. 

Selain itu, Komodo juga memiliki sekitar 60 buah gigi yang tajam sepanjang sekitar 2,5 cm. Gigi-gigi yang tajam itu mengalami pergantian secara periodik. sehingga kekuatan dan ketajamannya tetap terjaga dan terjamin. 

Selain gigi-giginya yang tajam, Komodo juga mempunyai cadangan air liur yang berlimpah dan bercampur dengan sedikit darah. Hal itu disebabkan karena gigi-giginya dilapisi jaringan gingiva yagng terus tercabik selama Komodo makan. Namun keadaan itu tidak pernah membuat mulut Komodo infaksi. Justru sebaliknya, campuran liur dan darah itu menciptakan kondisi yang sangat ideal bagi bertumbuhnya jenis bakteri yang mematikan dan menjadi senjata andalan Komodo. Bakteri itulah yang membuat mangsa Komodo mati karena infeksi secara perlahan setelah digigit Komodo.



Anatomi Komodo

Panca indera Komodo agak payah. Meskipun memiliki lobang telinga, Komodo tak memiliki indera pendengaran yang baik. Ia lebih responsif terhadap gerakan daripada suara. Selain itu, kadal raksasa ini juga hanya mampu melihat hingga jarak 300 meter saja. Dalam kegelapan malam, Komodo sama sekali buta. Itulah sebabnya,aktivitasnya lebih banyak dilakukan pada siang hari. Ketika malam, Komodo akan berdiam dalam kediamannya di lobang-lobang yang telah dibuatnya.
Matanya mmemang mampu membedakan warna, terutama warna-warna cerah, tetapi kurang mampu membedakan objek yang tidak bergerak. 

Namun seperti reptil lainnya, Komodo menggunakan lidahnya untuk mendeteksi. Dengan indera vomeronasal yang terdapat pada lidah, Komodo memiliki kemampuan navigasi dalam kegelapan. Lewat indera ini, Komodo bahkan mampu mendeteksi keberadaan bangkai pada jarak 4 – 9,5 kilometer. 

Walaupun memiliki lobang hidung, namun bukan merupakan alat penciuman yang baik. Hal ini terjadi  karena Komodo tidak memiliki sekat rongga badan.


Rahasia kesuksesan Komodo juga terletak pada sisik-sisiknya. Sisik-sisik Komodo diperkuat dengan tulang bersensor yang terhubung ke saraf-sarafnya. Sisik-sisik di sekitar telinga, bibir, dagu dan tapak kaki memiliki tiga sensor rangsangan atau lebih.

Sensor inilah yang berfungsi sebagai indera perasa bagi Komodo dalam merespon keadaan di sekitarnya.


Jadi, walaupun panca indera Komodo payah bila dibandingkan dengan hewan-hewan lainnya, namun tetap survive hingga hari ini. Semuanya itu terjadi karena keunggulan-keunggulan yang melekat pada spesies ini.



Daftar Pustaka: 
Dari berbagai sumber

Felix

Seorang Guru SMA, tapi pernah menjadi Tour Leader dan Tour Planer di sebuah biro perjalanan ziarah wisata Katolik. Selain Guru, mendedikasikan diri untuk menjadi seorang Blogger, khususnya ziarah wisata Katolik.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: