Orang Manggarai: Nomaden Manusia Modern di Pulau Flores

wisataziarah.com. Ditinjau dari teori Out of Africa, manusia modern berasal dari Afrika. Mereka bermigrasi ke seluruh dunia. Termasuk Orang Manggarai: Nomaden Manusia Modern di Pulau Flores.

Pendahuluan


Orang-orang Flores bukan merupakan satu suku dengan latar belakang yang sama. Demi mudahnya, ketika merantau mereka memperkenalkan diri sebagai orang Flores karena memang mereka berasal dari Flores. 

Sebetulnya pulau Flores didiami oleh beberapa suku, di antaranya Manggarai, Ngadha, Nage Keo, Ende-Lio, Sika, Larantuka dan Lamaholot. Bila ditinjau dari sudut bahasa dan budaya, orang Flores terdiri dari beberapa etnis, yaitu: etnis Manggarai – Riung (yang meliputi kelompok bahasa Manggarai,

Wanita Lamaholot dan Manggarai, dua etnis di Flores

Pae, Mbai, Rajong, dan Mbaen), etnis Ngadha-Lio (terdiri dari kelompok bahasa-bahasa Rangga, Maung, Ngadha, Nage, Keo, Palue, Ende dan Lio), etnis Mukang (meliputi bahasa Sikka, Krowe, Mukang dan Muhang), etnis Lamaholot (meliputi kelompok bahasa Lamaholot Barat, Lamaholot Timur, dan Lamaholot Tengah) dan etnis Kedang (yang digunakan di wilayah Pulau Lembata bagian selatan).

Kami akan mendeskripsikan suku-suku “asli” yang mendiami Flores itu satu-satu persatu. Mudah-mudahan dapat membantu pembaca yang terhormat untuk memahami budaya Flores secara lebih mendalam. Kami akan memulai dari Flores bagian barat. 



Manggarai – Suku Terbesar Flores 

Pulau Flores bagian barat didiami orang Manggarai.

Dua Versi Asa-usul Orang Manggarai

Paling tidak ada dua versi terkait penamaan suku terbesar di Flores ini.

Pendatang dari Goa – Sulawesi

Versi pertama mengatakan bahwa Manggarai merupakan gabungan dua kata bahasa Gowa – Sulawesi Selatan, yaitu manggar, artinya sauh atau jangkar dan rai, artinya putus. Jadi menurut versi ini, Manggarai artinya jangkar putus. 

Penamaan ini terkait dengan kisah penemuan atau interaksi suku ini dengan orang luar. Menurut ceritera rakyat Manggarai, orang-orang Gowa berlayar ke arah selatan dan akhirnya menemukan sebuah pulau yang berhutan sangat lebat dan sangat subur. Mereka berencana mendarat di daerah itu. Namun karena hujan badai yang sangat besar, jangkar mereka putus sehingga dengan segenap kekuatan berusaha menyelamatkan diri kembali ke laut lepas dan kembali ke temapt asal mereka – Gowa.

Kedatangan mereka disambut dengan sukacita mendalam oleh anggota keluarga. Para pelaut itu mengatakan bahwa mereka menemukan sebuah pulau yang subur dan berhutan sangat lebat. Mereka berusaha mendarat, tetapi karena badai besar jangkar perahu putus dan mereka tak berhasil mendarat. 

Demi mudahnya, daerah itu mereka namakan Manggar-Rai. Kelak, daerah itu didatangi kembali dan Manggarai selanjutnya dipakai untuk menunjuk daerah itu. 


Pendatang dari Minangkabau

Orang Todo, pakaian adatnya berbeda dengan Manggarai lainnya

Versi kedua mengatakan bahwa Manggarai merupakan gabungan kata Manggar dan  Rai. Versi ini mengatakan bahwa kata manggar diambil dari nama batu yang dibawa oleh Empo Masur seorang keturunan raja ( Raja Luwu ) dan merupakan cikal bakal orang Todo-Pongkor dari Sumatera Barat yang artinya watu jangkar yang biasanya digunakan untuk menahan Wangka (Perahu) ketika berlabuh. Sedangkan kata watu rai berarti batu asah yang digunakan untuk mengasah parang, tombak dan benda-benda tajam lainnya. Kedua batu ini merupakan dasar pemberian nama Manggarai. 

Ada banyak versi yang berkembang di Manggarai tentang asal-usul mereka. Ada yang mengatakan bahwa mereka adalah keturunan Sumba, Bima, Bugis Luwu, Melayu Malaka atau Minangkabau. 
Orang Cibal – lihat songketnya berbeda dengan Orang Todo

Versi yang mengatakan orang Manggarai berasal Minangkabau berkembang di wilayah Todo-Pongkor. Para tetua Todo-Pongkor mengatakan bahwa leluhur mereka bernama Masur, salah seorang keturunan Raja Luwu. Kemungkinan Masur adalah seseorang yang diberi kepercayaan untuk memimpin pasukan kesultanan Goa memasuki daerah Flores barat tahun 1666. Pasukan Goa ini memasuki wilayah barat Flores dari Warloka di Pulau Komodo lalu memasuki  pantai selatan Flores, tepatnya dari daerah Iteng – Satarmese sekarang. Dari situ mereka bergerak ke arah pedalaman dan sampai ke daerah Todo-Pongkor. Todo-Pongkor lantas dijadikan pusat kekuasaan baru. Pada mulanya kesultanan Goa itu ( di bawah perwakilan Masur ) hanya menguasai Flores Barat bagian selatan tetapi tidak lama berselang mereka menguasai hampir seluruh daerah yang saat ini disebut Manggarai Raya itu. 

Topi Manggarai – mirip kopiah: salah satu pengaruh Goa – Makasar

Pengaruh kesultanan Goa atas wilayah ini sangat besar. Selain harus menyetorkan upeti atau pajak ke kesultanan Goa yang diambil dari penduduk asli, Masur juga menikahiperempuan penduduk asli.Itulah mengapa orang Todo-Pongkor saat ini mengatakan bahwa mereka berasal dari Minangkabau. 

Tinjauan Kritis

Bila dilihat dari sisi historis, pengakuan itu tidak seluruhya benar dan juga tidak seluruhnya salah. Paling tidak ada dua alasan. 

Pertama, ada perbedaan sistem kekerabatan antara suku Manggarai dengan suku Minang. Orang Manggarai menganut sistem kekerabatan patrilineal semantara orang Minang menganut sistem kekerabatan matrilineal. Bagaimana mungkin orang Minang membalikkan sistem kekerabatan ini secara radikal? Kedua, adalah apa yang dikatakan antropolog Maribert Erb. Ia mengatakan  asal-usul orang Manggarai bukan dari Minangkabau. Karena belum ada bukti sejarah bisa memastikan bahwa orang Minangkabau pernah datang dan menetap di daerah Flores barat tersebut. Berdasarkan penelusurannya, orang Minangkabau biasanya mendatangi suatu daerah dan menetap  daerah itu karena mendapatkan keuntungan ekonomis. Pertanyaannya, untuk apa mereka datang ke Manggarai yang saat itu belum menunjukan keuntungan ekonomis bagi mereka?

Karena kedua alasan itu, mungkin lebih tepat dikatakan bahwa orang Manggarai, terutama Todo-Pongkor, merupakan hasil perkawinan antara penduduk asli dengan pendatang dari Minangkabau yang memasuki Flores Barat lewat penetrasi kekuasaan kesultanan Goa dari Sulawesi Selatan. 
Secara geografis, Flores Barat ( Manggarai ) sangat 
dekat dengan P. Sumba

Hipotesa ini membawa kita pada versi yang lain. Versi ini mengatakan bahwa orang Manggarai berasal dari Sumba. Nenek moyang orang Manggarai meninggalkan Sumba dengan perahu dan berlayar ke arah utara dan menemukan sebuah daratan yang berhutan lebat dan subur. Mereka mendarat di dataran rendah yang luas dan subur.  Mereka tinggal di daerah itu, lalu sebagian dari antara mereka berpindah secara nomaden memasuki pedalaman, menuju ke arah timur laut. Pada suatu mereka tiba di daerah yang saat ini bernama Mano. Dari itu sebagian lagi bergerak ke arah barat dan akhirnya tiba di daerah yang sekarang bernama Ruteng. 

Versi Lain

 
Pinisi, kapal orang Goa mengarungi lautan hingga ke mana saja

Versi lain lagi mengatakan bahwa nenek moyang orang Manggarai, terutama orang Cibal berasal dari Makasar. Versi ini mengatakan bahwa orang-orang Makasar di utara Floress Barat dan bergerak menuju pedalaman dan tiba di daerah Cibal lalu mendirikan kerajaan di daerah itu. Mereka inilah yang merupakan nenek moyang orang Cibal. Pendukung versi ini melihat kesamaan kata-kata bahasa Manggarai dengan bahasa Makasar serta bentuk rumah panggung ( mbaru ngaung ) selain kain sarung berupa songke (lipa songke, towe songke) sebagai alasan.

 
Namun ada catatan yang harus dikemamukakan di sini. Adanya kesamaan kata-kata itu tidak berkorelasi langsung dengan kesamaan suku. Karena ada juga kata-kata yang sama yang ditemukan di suku lain, misalnya suku Ngada di sebelah timur Manggarai.
 
Bugis
Goa/Makasar
Manggarai
Ngada
Indonesia
manuk
manuk
manu
ayam
lipa
Lipa
lipa/towe
lipa
kain sarung
Nyarang
Jarang
jara
kuda
  
Jadi, pendukung versi manapun belum bisa mengungkapkan fakta-fakta yang meyakinkan terkait asal-usul nenek moyang orang Manggarai.

Ada juga versi yang mengatakan bahwa nenek moyang orang Manggarai berasal dari Melayu-Malaka. Hingga kini belum ada fakta yang mendukung pandangan ini. Bagi saya, mungkin versi inilah yang paling mendekati kebenaran. Saya  mengatakan hal ini berdasarkan Teori Penyebaran Manusia Modern seperti yang bisa pembaca lihat dalam Teori Out of Afirica dalam tulisan ini.

Katakanlah kalau semua versi yang beredar itu memang  benar, itu semakin menunjukkan bahwa sebetulnya tidak ada satu suku Manggarai yang murni. Yang ada adalah kelompok-kelompok pendatang yang menempati wilayah tertentu yang dalam waktu relatif panjang mengembangkan adat-istiadat dan pusat kekuasaan sendiri-sendiri serta  saling berinteraksi dalam waktu yang relatif lama sehingga menghasilkan realitas orang-orang Manggarai seperti yang dikenal dewasa ini.

Dalam beberapa wawacara yang dilakukan antropolog Maribert Erb dengan beberapa tetua  Manggarai tentang asal-usul mereka sering didapati jawaban berupa dongeng atau bahasa kiasan. Satu diantaranya adalah cerita bahwa orang Manggarai berasal dari bambu. Menurut Maribert Erb, jawaban ini hanya mengungkapkan bahwa mereka sudah lama menetap di daerah tersebut sehingga mereka pun tidak tahu dari mana mereka berasal. Selanjutnya ia mengatakan bahwa keaslian orang Manggarai adalah suatu mitos. Semakin kita bertanya tentang keaslian maka kita tidak akan pernah menenukan jawabannya. Suatu keaslian selalu disertakan dengan pertanyaan tentang keasilannya. 

Hipotesis Asal Usul Orang Manggarai

Peta migrasi manusia modern menurut teori Out of Africa

Asal-usul orang Manggarai mungkin akan lebih jelas bila kita menggunakan parameter Teori Out of Africa. Teori Out of Africa ini mengatakan bahwa seluruh ras manusia modern berasal dari Africa.

Dalam dunia akademis, teori ini lebih diterima dari pada Teori Multiregional (Kontinuitas Regional). Sebuah teori lain yang  mengatakan bahwa ras-ras manusia modern dewasa ini merupakan hasil evolusi manusia purba yang terjadi secara  independen atau sendiri-sendiri di banyak wilayah di bumi ini. Teori ini tidak tahan uji karena tidak mampu menjawab masalah adanya missinglink antara manusia purba dengan manusia modern. 
 
Teori Out of Africa mendasarkan diri atas penelusuran genetik populasi manusia dengan menggunakan biologi molekuler. Dipastikan  bahwa seluruh ras manusia merupakan hasil evolusi manusia modern benua Afrika (Homo sapiens) dan tidak mendapatkan turunan genetic  dari hominid-hominid pendahulunya seperti hominid Eropa (Neanderthal) maupun hominid Asia baik yang fosilnya ditemukan di Peking maupun di Jawa.
 
Dr. Alice Robert – salah satu pendukung Teori Out of Africa
Dalam bukunya, The Incredible Human Journey,  Dr. Alice Roberts menelusuri sejarah migrasi manusia berdasarkan penemuan-penemuan tulang belulang homo sapiens dan merangkainya dalam teori perjalanan manusia yang dimulai dari Afrika pada 150.000 tahun yang lalu. Dari penemuan-penemuan itu, Roberts dan para ahli lainnya membangun teori bahwa seluruh manusia apapun rasnya berasal dari Afrika dan menyebar keseluruh penjuru dunia. Teori itu dibangun lewat jejak DNA dari berbagai ras manusia di dunia dan metode menghubungkan iklim dunia pada saat itu dengan proses migrasi  manusia. 
Dr Roberts memperkirakan bahwa ini terjadi pada 70.000 tahun yang lalu, ketika iklim bumi berubah, dan gurun Sahara menghijau hanya beberapa ratus tahun lamanya. Kesempatan ini memungkinkan sekelompok manusia melintasi Afrika dan menyeberang ke jazirah Arab sebelah selatan.Dari sana kelompok itu memecahkan diri. Ada yang menuju ke timur dan ada yang menuju ke barat. 
Kelompok yang menuju ke timur, mencapai Anak Benua India melalui Timur Tengah dan mencapai Oseania melalui Indonesia . Diperkirakan 50 sampai 60 ribu tahun lalu mereka telah sampai di Australia lebih dahulu sebelum menyebar di wilayah Asia lainnya. 
Paparan Sunda dan Sahul yang memungkinkan migrasi fauna & manusia

Pada Jaman Es, ketika permukaan air laut lebih rendah, Indocina , Indonesia bagian barat dan sebagian kecil Filipina menyatu membentuk Paparan Sunda yang dianggap sebagai cikal bakal negara-negara Asia saat ini. Australia dan Pulau Papua ( New Guinea ) juga bergabung membentuk Paparan Sahul yang dipisahkan dari Paparan Sunda oleh Selat Sahul. Namun demikian beberapa kelompok manusia berhasil menyeberanginya dan mencapai pulau-pulau di Oseania. 
 

Sementara itu beberapa kelompok manusia juga meninggalkan Afrika menuju Eropa melalui bagian utara Laut Merah, Asia Tengah dan Timur Jauh, tapi lebih banyak yang menuju timur ke arah Paparan Sunda karena tertarik dengan iklim yang lebih bersahabat dan alam yang subur. 
Teori Out of Africa bisa membantu kita membangun sebuah hipotesa baru bahwa asal-usul Orang Manggarai

Garis Wallace & Weber,  pemisah sebaran fauna Indonesia

tidak bisa dipisahkan dari suku-suku lain di Flores. Mereka merupakan bagian dari manusia modern yang melakukan migrasi ke Oceania hingga Autralia seperti yang dikatakan Dr. Alice Robert di atas.

Hipotesa ini diperkuat oleh beberapa kemiripan fisik dan bahasa antar suku-suku di Flores seperti telah dikemukakan di atas, terkait adanya kesamaan suku kata antara Goa-Bugis, Manggarai dan Ngada.
 
Gadis-gadis Manggarai, unik karena merupaka perpaduan antara Proto Melayu – Deutero Melayu

Selanjutnya berbedaan-perbedaan lainnya muncul karena kenyataan historis lainnya. Tidak ada suku lain di Flores yang telah membangun interaksi yang intensif dengan orang-orang luar seperti orang Manggarai. Interaksi yang intensif antar orang-orang yang mendiami wilayah Manggarai dengan suku-suku yang datang kemudian yang akhirnya melahirkan versi-versi keaslian orang Manggarai seperti sudah diungkapkan sebelumnya.

Dalam konteks ini, Manggarai adalah suku yang paling unik di seluruh Indonesia. Bisa jadi Manggarai adalah semacam “garis Wallace” dan “garis weber”  dalam konteks penyebaran ras dan suku manusia di Indonesia. 

Sumber: 
Dari berbagai sumber. 

Felix

Seorang Guru SMA, tapi pernah menjadi Tour Leader dan Tour Planer di sebuah biro perjalanan ziarah wisata Katolik. Selain Guru, mendedikasikan diri untuk menjadi seorang Blogger, khususnya ziarah wisata Katolik.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: