Tarian Caci Penuh Ketangkasan dan Maskulinitas dari Manggarai


wisataziarah.com. Tarian Caci berasal dari Manggarai dan dipentaskan juga oleh suku Riung di Ngada Utara. Ini menunjukkan Riung memiliki asal-usul yang sama dengan orang Manggarai. 
Pada kesempatan ini, kami mempresentasikan ruang makan itu untu Anda. 
Caci – tarian lelaki Manggarai satu sebagai penyerang dan satu lagi bertahan

Sinopsis

Diiringi dere, nyanyian tradisional dan tabuhan gong dan gendang dari para pendukung, seorang lelaki perkasa dengan gerakan bagai seekor kuda jantan berusaha memukul lawannya yang bertahan dengan perhatian penuh pada gerakan pria yang mau menyerangnya. Itulah gambaran umum tarian Caci yang senantiasa yang dimainkan para lelaki Manggarai saat berlangsungnya pesta-pesta penting. 

Caci adalah kombinasi antara tarian, nyanyian (pantun), serta seni menggunakan alat penyerang dan seni menghindari diri dari serangan lawan . Secara sederhana dan populer, kebanyakan orang menyebut produk ini sebagai tarian sebagai ketangkasan dalam menyerang dan mempertahankan diri dari serangan.
Tarian ini bisa saja menimbulkan rasa takut dan kuat bagi orang yang baru pertama kali menontonnya. Jelas tarian ini merupakan tarian aduan khusus para lelaki Manggarai yang sudah dewasa dan dimainkan secara publik.

Alat Kelengkapan Tarian Caci

Celana putih dibalut songke dan kain warna-warni merupakan kostum penari caci
Penari caci biasanya mengenakan celana panjang putih yang dibalut dengan kain tradisional songke sebatas lutut. Sebagai ikat pinggang yang dikenakan sapu tangan warna warni dan dipasang seuntai gandulan di bokong.  Di pinggang bagian belakang (antara lilitan songke dan celana dipasang sebuah tongkat aksesoris lain lalong denki , yaitu hiasan yang tersedia bulu ekor kuda.
Sedangkan badan dan tangan dibiarkan telanjang. Di kepala dikenakan panggal , yaitu sejenis topeng khas berbentuk kepala dan tanduk kerbau yang dipasang kain warna-warna. Panggal yang terbuat dari kulit kerbau yang sudah kering ini dikenakan di kening setelah sebagian besar muka dililit dengan kain panjang.


Panggal, aksosir berbentuk muka dan tanduk kerbau

Selain alat kelengkapan itu, penari caci juga dilengkapi dengan alat lain yang dipegang baik untuk   lawan atau pun menangkis serangan. Paki atau orang yang mendapat giliran untuk menyerang   memperlengkapi diri dengan larik , sebuah alat cemeti.   Cemeti khas Caci ini terbuat dari kulit kerbau atau kulit sapi yang sudah dikeringkan. Ujung cemeti dipasang lempa , yaitu kulit kerbau tipis, tajam  dan keras karena sudah dikeringkan. Dapat juga menggunakan pori , yaitu lidi pohon enau yang masih hijau. Bila terkenal pada tubuh, pori bisa menancap pada daging tubuh yang merupakan sasaran cambukan larik .

Nggiling-perisai dari kulit kerbau dan agang, alat penangkis serangan Caci
Sedangkan ta’ang atau orang yang mendapat giliran untuk bertahan atau diserang memperlengkapi diri dengan nggiling , sebuah perisai berbentuk bundar yang juga terbuat dari kulit kerbau yang dilengkapi gagang dalam sebagai pemegang di tangan yang satu. SEMENTARA ITU di serbi yang lain, ta’ang memegang agang ATAU tereng , Yaitu alat penangkis Yang Terbuat Dari bambu Kecil Dan rotan Yang berjalin Dan dibentuk melengkung  Setengah Busur. 

Pementasan Tarian Caci

Tari Tandak sebagai ajang membatalkan Tari Caci
Sebelum tarian Caci dimulai, dipentaskan satu tarian pembuka, yaitu tari danding atau tandak . Tarian yang dibawakan oleh para lelaki dan perempuan ini sebagai “ajang yang dioperasikan” sebelum tarian dipentaskan. Namun percobaan ini bukan hanya bagi para penari Caci tetapi semua yang terlibat dalam acara itu.
Tarian yang  memadukan antara gerak dan lirik ini bertujuan untuk meningkatkan adrenalin para petarung Caci dan euforia penonton, pendukung masing-masing kelompok. Untuk Menambah Semarak, si tolol ATAU Minuman DENGAN kadar alkohol Tinggi Yang Menjadi kekhasan Bagi SEMUA suku Flores termasuk Manggarai also dihidangkan.
Untaian giring-giring di bokong jenjang caci
Sementara kumpulan besar menyanyi dan menari, para penari Caci yang   melakukan perubahan di tempat yang akan dijadikan tempat pementasan tari Caci dengan melakukan gerakan-gerakan serupa gerakan kuda jantan yang gagah dan perkasa.
Penari lain menunggu giliran bermain Caci

Meningkatkan Solidaritas In-Group

Walaupun tarian ini adalah tarian ketangkasan menyerang dan menangkis yang dilakukan satu lawan satu, namun sebetulnya tarian ini adalah kelompok yang dipentaskan secara berurutan dari orang pertama hingga orang terakhir.
Ditinjau dari dalam kelompok dan kelompok keluar, kelompok pertama adalah ata satu (dalam kelompok) , yaitu tuan rumah sedangkan kelompok lain   adalah ata pe’ang (kelompok luar) , yaitu kelompok dari kampung lain. Mereka adalah  meka landang atau tamu penantang. Pembedaan ini dibuat untuk menilai  perasaan in-group dan lawan dilihat sebagai out-group , yaitu “mereka” yang harus dikalahkan.
Perasaan in-group muncul saat menghadapi out-group / ata pe’ang
Perasaan in-group dan out-group itu semakin mengemuka ketika caci dipentaskan. Namun perasaan ini diciptakan sebatas “kompetisi” Caci itu sendiri. Sambil terus menghidupkan suasana dengan iringan dere atau nyanyian serta tabuhan gong dan gendang, satu orang dari masing-masing kelompok menuju arena tarian untuk beradu strategi dan kekuatan demi nama baik kelompok dan pribadi. Mereka akan menari sebagai pihak yang menyerang dan bertahan lalu kemudian berganti posisi; yang menyerang sekarang bertahan dan yang tadinya bertahan sekarang bertindak sebagai penyerang.
 

Wanita, gerakan enerjik penuh hiburan sangat penting dalam Caci
Kelincahan gerakan adalah seni mempertontonkan kehebatan dan keluwesan gerak tubuh dalam memperdaya pihak yang diserang atau mengelabui pihak yang menyerang. Lewat lomes ini, pihak penyerang berusaha menyerang dan mencambuk lawannya di bagian lengan, punggung dan belakang, serta perut dan dada. Sementara pihak yang diserang akan mengambil posisibertahan dengan mengarahkan perhatian penuh pada gerakan pria yang mau menyerangnya.  Dia harus menangkis atau menghindari serangan dari pihak penyerang dengan perisai dan busur yang ia pegang di masing-masing tangan dengan gerakan yang lomes pula.
Mata, simbol kehormatan dalam Caci tidak boleh terkena larik.
Apabila kurang lincah mengelak, dipastikan cemeti penyerang akan melukai tubuh hingga berdarah. Bila pihak yang bertahan terkena cambuk pada matanya maka dinyatakan ia dinyatakan beke atau kalah. Pasangan itu harus keluar dari arena dan menjaga oleh jurus lainnya. 
 
 

Nilai Filosofis di Balik Tarian Caci

Luka akibat sabetan lempa bukan simbol masochisme ala dunia modern
Orang luar Manggarai mungkin akan menilai tarian Caci ini sebagai tarian yang sadis , masochis dan kejam. Tetapi bagi orang Manggarai penuh dengan nilai-nilai luhur. 
Caci sendiri berasal dari dua kata yaitu ‘ca’ , artinya satu dan ‘ci’ , artinya uji. Jadi militer terlatih dan latihan ketangkasan satu lawan satu. Pada zaman sebelum Gereja Katolik masuk tanah Manggarai, sering terjadi perang antar sub suku atau antar kampung. Motif peperangan bisa macam-macam; mulai dari perebutan wilayah, masalah adat atau harga diri suku yang dilecehkan. Itulah batasan campang atau kampung orang Manggarai selalu dibangun di atas bukit.
Ekspresi kebanggaan pemain yang menunjukkan nilai lain di balik Ca ci
Dalam konteks peperangan, tarian Caci adalah media pelatihan ketangkasan   berperang dan pelatihan mental untuk tidak gentar terhadap lawan. Bila terjadi perang antar suku, nyali sudah teruji dan  siap berperang tanpa rasa takut pada suku lain.
Dewasa ini, ketika perang antar kampung tidak laku lagi,  tarian caci tetap dipentaskan.
Tujuannya bukan lagi melatih ketangkasan tetapi “proses” pendewasaan. Dalam hidup ada pilihan yang sulit dan menakutkan. Namun, seorang laki-laki harus menghadapi pilihan sulit itu.
Luka akibat sabetan lempa pada larik dan bekas yang ditimbulkannya meninggalkan rasa bangga. Mereka bangga karena proses inisiasi sebagai lelaki dewasa Manggarai telah mereka lewati.
Caci is a test kelompok mana yang benar dan mana yang salah.

Dewasa ini, masalah antar kampung biasanya diselesaikan secara adat, secara agama atau secara hukum. Namun, naluri tradisi mengharuskan mereka untuk menyesaikan masalah itu secara tuntas di arena caci.  Itulah alasan sebelum tarian caci, dimadahkan nyanyian kelong untuk memanggil arwah leluhur. Pada arena Caci inilah, mereka percaya – kehadiran arwah nenek moyang,  akan  terbukti kebenaran secara sah; siapa yang salah dan siapa yang benar. Dewasa ini, sifat lembut inilah yang   menjadikan mereka yang menang tidak merasa sombong dan yang kalah tidak merasa malu.
Pekerja keras dan sahabat manusia

Asal-Usul Tarian Caci

Konon, tarian Caci ini berasal dari kisah dua kakak beradik dan kerbau peliharaan mereka. Ketika melewati padang rumput yang maha luas, si adik terperosok ke dalam sebuah lubang yang dalam. Sang kakak berusaha dengan segala cara membantu adiknya namun semuanya sia-sia. Sang kakak berkesimpulan adiknya hanya mungkin diselamatkan bila ada tali. Namun saat itu tidak ada tali padanya. Sang kakak berpaling pada kerbau kesayangan mereka yang hanya berdiri diam seolah turut berempati pada kesedihan sang kakak. Untuk keselamatan adiknya, sang kakak akhirnya kerbau kesayangan mereka. Kerbau itu meningkat dengan kegalauan yang dalam agar kulitnya dibuat tali. Dengan tali dari kulit kerbau kesayangan akhirnya sang adik bisa diselamatkan. Konon, untuk mengenang peristiwa pengorbananitu, diciptakanlah tarian caci. Bukan tanpa maksud bila sebagian besar perlengkapan Caci  berasal dari kulit kerbau yang dikeringkan.
Kisah pengorbanan ini mengajar   orang Manggarai bahwa dalam situasi dilematis, dibutuhkan sebuah pengorbanan. Namun pengorbanan itu akan mendatangkan terwujud. Pengorbanan itu harus selalu dikenang untuk menumbuhkan sikap altruisme . Untuk mencapai apa yang dicintai mesti ada pengorbanan. 
Lomes adalah gerakan seperti kuda janjan beradu kekuatan
Gerakan perempuan seperti kuda jantan berjingkrak dan sikap sigap memperhatikan gerakan penyerang serta topeng kulit kerbau bukan pula tanpa maksud. Semuanya itu mempersentasikan suatu harapan. Sebagai lelaki, orang Manggarai harus gagah seperti kuda pacuan dalam memperjuangkan sesauatu serta kuat dan ulet seperti kerbau dalam suatu peringatan.
 

Musim Pementasan

Caci, salah satu aset berharga pariwisata Flores, khususnya
Bila Anda ke Manggarai jangan lupa menyaksikan pemandangan ini. Tarian Caci hampir dimainkan di seluruh kampung di Manggarai. Tarian ini biasanya dipentaskan pada pesta Hang Woja (musim   panen) atau Penti (pesta Tahun Baru Manggarai) setiap tahun sekitar bulan Juli – Oktober.
Anda bisa menanyakan pada pemandu lokal entah di Labuan Bajo atau di Ruteng. Mereka pasti akan menunjukkan kepada Anda dengan senang hati. Akhirnya selamat menikmati. 

 

Sumber: Dari berbagai sumber

Felix

Seorang Guru SMA, tapi pernah menjadi Tour Leader dan Tour Planer di sebuah biro perjalanan ziarah wisata Katolik. Selain Guru, mendedikasikan diri untuk menjadi seorang Blogger, khususnya ziarah wisata Katolik.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: