Most Recomended Catholic Site Pilgrim In Central Java And Yogyakarta

wisataziarah.com. Yogyakarta punya tempat-tempat ziarah katolik terkenal. Di sini, wisataziarah.com menyajikan most recomended catholic site pilgrim in Central Java and Yogyakarta. Ya di sini presentasikan kami tempat ziarah katolik Jawa Tengah dan Yogyakarta sebagai destinasi tambahan bila berlibur ke sana.

Baca juga: Kuliner dan Oleh-Oleh Khas Yogyakarta

Gua Maria Sendangsono

Situs ziarah pertama yang kami rekomendasi untuk Anda adalah Sendangsono. Situs ini adalah yang terpopuler dari Most Recomended Catholic Site Pilgrim In Central Java And Yogyakarta karena berbagai alasan.

Sendangsono adalah objek wisata ziarah katolik yang sangat terkenal di kalangan orang Katolik, bukan saja di Jawa Tengah dan Jogja, tetapi juga dari daerah dan kota lain.

Terletak di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta, tidak jauh dari Jogja dan juga dari Borobudur, menjadikan Gua Maria ini harus Anda kunjungi untuk berbagai alasan.

Sebelumnya, Sendangsono dikenal dengan nama Sendang Semagung. Merupakan lokasi persinggahan peziarahan para biksu Budha dari  bukit Manoreh menuju Candi Borobudur pulang pergi. Mereka biasanya mengambil air dan istrirahat sejenak di area itu. Ada ada mata air yang terus mengalir sepanjang tahun. Sendang Semagung juga diyakini sebagai tempat bersemayam Dewi Latamsari dan putra tunggalnya Den Baguse Samija.

Sendang Semagung berubah nama menjadi Sendangsono semenjak didirikannya Gua Maria yang diawali oleh baptisan atas 171 warga setempat menjadi Katolik
Barnabas Sarikromo

Dalam konteks kehadiran Gereja Katolik di Jawa, Sendangsono memiliki peranan besar. Semuanya bermula dari Barnabas Sarikromo.

Siapakah dia? Sarikromo itu orang biasa. Ia menderita sakit “cecek” yang tak bisa disembuhkan. Setelah mengalami suatu penglihatan dalam mimpi, ia memutuskan untuk mencari obat dengan cara “ngesot” ke arah timur laut.

Ia mengalami banyak hambatan sebelum bertemu dengan Bruder Kersten dan Romo Van Lith di Muntilan, di arah timur laut Sendangsono. Di sanalah ia mengalami kesembuhan sehingga tertarik menjadi katolik. Setelah mendapatkan pelajaran agama, ia bersama tiga temannya dibaptis menjadi Katolik tanggal 20 Mei 1904.

Makam Barnabas Sarikromo – warga pribumi Jawa yang pertama menjadi Katolik. Beliau adalah katekis Jawa pertama dan membawa 171 jiwa kepada Kristus hanya dalam waktu empat bulan sejak nazarnya

Sebagai tanda sukacita, Barnabas Sarikromo bernazar untuk menjadi pewarta Sabda Allah. “Bertahun-tahun kakiku ini tidak bisa sembuh. Sekarang kakiku sembuh berkat belaskasih Allah. Oleh karena itu, aku, Sarikromo, bernazar akan menggunakan kedua kakiku ini untuk mewartakan Allah. Kiranya Allah sendiri berkarya melalui kata dan perbuatanku.”

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, nazar itu dia tepati. Tanggal 14 Desember 1904, sekitar empat bulan saja, 171 warga setempat  menyerahkan diri kepada Kristus lewat baptisan yang mereka terima dari Romo Van Lith, setelah diajarkan agama oleh Barnabas Sarikromo, bertempat Sendang Semagung tersebut.

Sendang Semagung Menjadi Sendansono

Duapuluhlima tahun kemudian, tepatnya tepatnya 8 Desember 1929, Sendang Semagung diangkat dan dinyatakan secara resmi menjadi tempat peziarahan Katolik  oleh Romo JB Prennthaler SJ. Bukan saja itu, nama Sendang Semagung pun diubah menjadi Sendang Sono hingga sekarang ini.

Dinamakan demikian karena Gua Maria ini dibangun di atas sumber air yang mengalir di antara pohon sono. Sumber air itu masih mengalir sampai sekarang dan sering diambil para peziarah dan didoakan di depan arca Bunda Maria sebelum dibawa pulang untuk keperluan pribadi.

Patung Bunda Maria di Sendangsono dipersembahkan oleh Ratu Spanyol yang begitu susahnya diangkat beramai-ramai naik dari bawah Desa Sentolo oleh umat Kalibawang.

Pada 1945 Pemuda Katolik Indonesia berkesempatan berziarah ke Lourdes, dari sana mereka membawa batu tempat penampakan Bunda Maria untuk ditanamkan di bawah kaki Bunda Maria Sendangsono sebagai reliqui sehingga Sendangsono disebut Gua Maria Lourdes Sendang Sono.

Adanya  banyak kesaksian tentang mukjizat yang peziarah alami setelah pulang dari Gua Maria Lourdes Sendangsono membuat tempat ziarah yang satu ini selalu ramai dikunjungi.

Bukan saja pada bulan Mei dan Oktober, tapi sepanjang tahun. Orang tidak akan bosan ke sana, bisa berkali-kali. Tempat ziarah katolik yang satu ini menyambut semua orang. Peziarah bukan saja orang Jogja dan Jawa Tengah. Hampir dari seluruh Indonesia. Bahkan tempat ini bukan saja dikunjungi orang Katolik. Ada banyak orang beragama lain, karena Bunda Maria adalah Bunda Segala Bangsa. Siapapun dapat datang kepadanya.

Pasang Iklan Anda di sini!

Gua Maria Jatiningsih

Gua Mari Sendang Jatiningsih – oase umat beriman di sela-sela kesibukan dan rutinitasnya
Lokasi

Dari Sendangsono, ke arah tenggara, tepatnya di pinggir kali Progo terdapat gua Maria lain lagi. Namanya Gua Maria Sendang Jatiningsih, artinya sumber air dari Rhamat Tuhan yang mendatangkan kedamaian.

Nama Sendang Jatiningsih memang benar-benar mempresentasikan objek wisata ziarah Katolik yang satu ini. Letaknya yang agak menurun, berhadapan dengan kali Progo di depan dengan air yang terus mengalir, tempat ini menawarkan ketenangan dan pengalaman menyatu dengan alam.

Kehadiran Gua Maria Sendang Jatiningsih tidak terlepas dari kehadiran orang Katolik di daerah itu. Tahun 1952, ada warga dusun setempat memutuskan untuk dibaptis menjadi Katolik.Setahun kemudian, jumlah warga yang menjadi Katolik semakin banyak sehingga akhirnya mereka sepakat untuk mengadakan kebaktian setiap Jumat malam. Selain kebaktian, mereka juga mengisi kegiatan Jumat malam itu dengan karawitan, kethoprak dan selawatan.

Kegiatan itu akhirnya mendorong seorang umat yang bernama Ignatius Purwidono menghibahkan tanahnya yang berada di tepi kali Progo menjadi tempat berkumpul dan beribadah yang sekarang menjadi Gua Maria Sendang Jatiningsih.  

Ketika bapak Ignatius Purwidono menghibahkan tanah, umat lainnya tergerak untuk mengumpulkan dana  membangun Gua Maria. Batu putih untuk dinding dua diambil dari Gunung Kidul. Sedangkan patung Bunda Maria dibuat oleh seorang pematung asal Muntilan.

Suasana

Sejak awal, Gua Maria memang dibangun dengan konsep terbuka dan menyatu dengan alam. Pohon-pohon jati besar dibiarkan terus bertumbuh. Juga dipasang carport sehingga peziarah merasa nyaman di sini. Hembusan angin di antara dedaunan jati  semakin membuat para peziarah menyatu dengan alam dan Tuhan lewat alunan doa Salam Maria.

Gua Maria hasil swadaya itu akhirnya diresmikan tahun 1986. Selanjutnya, tahun 1999 diadakan renovasi dan akhirnya diberkati oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Ignatius Suharyo, Pr.  ( sekarang menjadi Uskup Agung Jakarta ).

Keheningan dan suasana menyatu dengan alam yang lebih memudahkan manusia menyatu dengan Tuhan. Jatiningsih bukan saja menjadi magnet warga setempat. Gua Maria Jatiningsih juga menjadi tempat ziarah favorit umat Katolik dari berbagai tempat.

Saat ini, Gua Maria Jatiningsih sangat representative menjadi tempat mendekatkan diri pada Tuhan. Karena Jatiningsih memperlengkapi diri dengan sarana peribadatan lain selain Gua Maria. Ada stasi Jalan Salib versi panjang dan singkat. Ada Bukit Kalvari tempat Yesus bergantung di salib, Ada Pieta, patung Bunda Maria menggendong Yesus saat diturunkan dari Salib.

Fasilitas doa yang lengkap serta area yang bersih membuat lokasi Gua Maria Sendang Jatiningsih sangat rekomended untuk dikunjungi.

Baca juga: Holy Sepulchre Ada Golgota dan Makam Yesus

Situs Ziarah Katolik Sumur Kitiran Mas

Sumur Kitiran Mas berada dalam Gereja Maria Asumpta – Pakem, sebelah kiri panti imam, di kaki Bunda Maria
Lokasi dan Keunikan Sumur Kitiran Mas

Sumur Maria Kitiran Mas berada dalam Gereja St Maria Assumpta, Pakem. Tepatnya ada di Jalan Kaliurang KM 17, Pakem, Sleman. Gerejanya mudah ditemukan karena terletak di jalan utama menuju Tempat Wisata Kaliurang.


Sumur Kitiran Mas berada di dalam Gereja, tepatnya sebelah kiri panti imam. Ada dua sumur yang berasal dari mata air yang sama. Sumur kecil berdiameter sekitar 20 cm. Digali pada tahun 1985. Sempat ditutup namun pada akhirnya dibuka kembali. Sumur Kitiran Mas ini diberkati kembali pada tanggal 14 Oktober 2001.

Tahun 2002 dibuat sumur yang lebih besar (berdiameter 70 Cm). Dibuat agar peziarah cepat terlayani mengingat kapasitas sumur pertama yang terlalu kecil.

Di tempat ziarah katolik yang satu ini rutin diadakan Tirakatan atau berdoa bersama di depan gua tiap malam rebo pahing (kalender Jawa) dengan acara Rebo Paingan.

 Pada awalnya di bawah patung Bunda Maria ada jambangan berisi air. Tuajuannya agar tercipta suasana sejuk pada orang yang berdoa. Namun banyak umat meminum air tersebut setelah berdoa. Hingga kini meminum air menjadi satu “ritus” setelah berdoa.

Ada beberapa orang yang mengalami mukjizat kesembuhan setelah meminum air itu.

Upaya Menemukan Sumber Air Hidup



Penggalian sumber air sumur Kitiran Mas digagas oleh Romo G.P Sindhunata. Beliau yakin di bawah patung terdapat sumber air yang bisa digali. Penggalian dilakukan hanya berukuran kecil. Atas dasar pemikiran umat bahwa bagi Tuhan itu tidak ada yang mustahil jadi ukuran kecil pun pasti bisa mendapatkan air.

Setelah penggalian dengan usaha keras akhirnya mata air itu ditemukan. Semenjak itu banyak orang datang untuk berdoa dan berziarah di tempat ini.

Awal pembuatan sumur ini berjalan demikian lambat, karena pembuatannya dilakukan dengan cara manual. Sebelum sumur dibuat, telah dilakukan tirakat selama kurang lebih setahunan untuk mencari tujuh sumber air dari mata air yang berbeda di lereng  Gunung Merapi.

Tirakat lain juga ditempuh untuk mencari tujuh jenis bunga yang berbeda. Ketujuh air yang didapatkan dalam tirakat atau laku prihatin itu berasal dari Tuk (sumber air) Celeng, Tuk Wengi, Tuk Sangkan Paran, Tuk Rembulan, Tuk Ulam, Tuk Cuwo, dan Tuk Macan.

Ritual Membangun Sumur Kitiran Mas

Pencarian tujuh air dari tujuh sumber yang disertai laku prihatin dan doa itu akhirnya ditutup dengan doa Novena kepada Bunda Maria. Air tujuh sumber dan bunga tujuh macam pun dimasukkan ke dalam sumur tersebut. Semua unsur itu menyatu dalam sumur tersebut. Umat setempat menandai sumur tersebut dengan nama Sumur Kitiran Mas atau Sumur Kitiran Kencana.

Sumur ini dilengkapi dengan timba dengan ember bergambar salib. Di sekitar sumur juga ada tempat khusus untuk penyalaan lilin. Ada pula deretan kendi, patung-patung batu yang menggambarkan Buto Bajang, Kupu-kupu, Ikan Kotes, dan Katak.

Patung-patung batu ini merupakan lambang bahwa manusia harus bekerja keras menghadapi segala tantangan. Patung Kupu-kupu perlambang keikhlasan menjalankan kewajiban dan tugas hidup. Patung Katak melambangkan kepasrahan dan kesederhanaan.

Manusia digambarkan seperti Ikan Kotes, yang berkat air kasih-Nya manusia bisa berenang dengan indah dunia. Patung Buto Bajang mengingatkan manusia agar rendah hati dan tulus.

(Diambil dari sindonews.com berdasarkan saduran dar Buku 50 Tahun Gereja Maria Assumpta Pakem)

Baca juga: Yerusalem Kota Suci Agama Yahudi, Kristen dan Islam

Situs Ziarah Katolik Gereja Hati Kudus Ganjuran

Tampak luar Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran
Situs paling recomended kedua setelah Sendangsono dari Most Recomended Catholic Site Pilgrim In Central Java And Yogyakarta adalah Gereja Hati Kudus Ganjuran.
Mengapa Kamu Harus ke Sana?

Paling tidak ada tiga alasan mengapa Gereja Hati Kudus Yesus harus masuk dalam agenda ziarah katolik Anda. Pertama, bangunan gereja yang unik; bergaya joglo, berbentuk salib dengan salib di atas atapnya, hasil perpaduan antara Eropa – Hindu dan Jawa.

Kedua, keberadaan Candi Hati Kudus Yesus. Kalau selama ini, candi itu identic dengan Hinduisme dan Budhisme. Namun, di Gereja Ganjuran, Anda akan menemukan sebuah candi, tempat disemayamkan Hati Kudus Tuhan Yesus yang sangat mirip dengan arca Budha Gautama tetapi tetap tampil dalam wajah Yesus.

Ketiga, Upacara liturgis yang dikemas dalam balutan ritus budaya sehingga unik, menarik dan berkesan.

Lokasi dan Sejarah Berdirinya

Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran terletak di Ganjuran, Bantul,  Daerah Istimewa Yogyakarta, 17 kilometer dari kota Jogjakarta. Menempati tanah seluas 2,5 hektar, Gereja Ganjuran memperlengkapi diri dengan semua fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan devosi umat Katolik.

Gereja ini didirikan oleh keluarga Schmutzer, orang Katolik Belanda yang memiliki pabrik gula di  wilayah Ganjuran.

Terinspirasi oleh Ajaran Sosial Gereja – Reru Novarum, keluarga ini bukan saja mencari untung lewat pabrik gula milik mereka, tetapi juga membuka lembaga nonprofit untuk kepentingan para buruh yang bekerja di pabrik gula milik mereka. Mereka membuka sekolah dan rumah sakit ( di antaranya yang sekarang tetap eksis, yaitu Rumah Sakit Panti Rapih – Jogja ) yang tetap eksis hingga hari ini.

Disamping itu, mereka mendirikan gereja dan mendorong karyawan yang bekerja pada mereka untuk menjadi Katolik. Gereja Ganjuran dimulai dengan 25 baptisan penduduk asli. Sekarang sudah berkembang menjadi sekitar 10.000 orang yang mengasosiasikan diri mereka dengan Gereja Katolik.

Walaupun bukan anggota hirarki ( imam dan uskup ), Schmutzer amat memahami bahwa Gereja harus mengakar pada budaya setempat ( dalam istilah Vatikan 2 = Inkulturasi ). Karena itu, sebelum gereja didirikan mereka memikirkan sebuah master plan Gereja yang berwajah Jawa, yang mampu meresapi nilai-nilai ke-Jawaan yang telah berinteraksi dengan agama-agama lainnya selama ribuan tahun.  

Gereja Ganjuran

Untuk memfasilitasi 25 baptisan baru, tanggal 16 April 1924, keluarga Schmutzer mendirikan gereja di area pabrik milik mereka.

Arsitektur gereja dipecayakan kepada seorang arsitek Belanda, J Yh Van Oyen. Gereja dibangun dengan memadukan gaya Eropa, Hindu dan Jawa. Gaya Eropa termanivastasi dalam denahnya yang berbentu salib bila dilihat dari udara. Jawa menyumbang gaya joglo untuk gedung gereja termasuk hiasan ukiran Jawa serta nanas pada pilar-pilar gereja serta ukiran berbentuk jajaran genjang yang disebut wajikan.

Gedung Gereja yang sekarang adalah renovasi besar-besaran setelah gempa bumi tahun 2006.  Pendopo gereja dikerjakan langsung oleh pihak Keraton Yogyakarta. Mereka mendatangkan pemahat khusus untuk membuatkan pahatan-pahatan kayu yang mirip dengan keraton.

Pada kanan kiri altar juga terdapat patung malaikat berbusana tokoh wayang orang sedang menyembah. Sementara empat tiang kayu jati bergaya Jawa yang menopang atap berbentuk tajug menggambarkan empat penulis Injil, yakni Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.

Gaya Jawa juga terlihat pada relief Yesus yang digambarkan sebagai raja Jawa yang bertahta di singgasana. Pada bagian bawah relief ini terdapat tulisan Sang Maha Prabu Jesus Kristus Pangeraning Para Bangsa.

Sedangkan relief Bunda Maria digambarkan sebagai ratu Jawa yang sedang memangku Yesus yang masih anak-anak. Pada bagian bawah relief ini terdapat tulisan Dyah Marijah Iboe Ganjoeran. Baik Yesus maupun Bunda Maria dalam relief ini juga berparas Jawa dan mengenakan kostum Jawa.

Karena inkulturasi yang nyaris sempurna, Gereja Hati Kudus Ganjuran sangat direkomendasi untuk ziarah katolik Anda.

Situs Ziarah Katolik Candi Hati Kudus Yesus

Yang lebih unik dari Gereja Hati Kudus Yesus adalah kehadiran Candi Hati Kudus Yesus, juga dalam kompleks gereja seluas 2,5 ha tersebut.

Candi ini didirikan tahun 1927, tiga tahun setelah Gereja Hati Kudus didirikan. Keluarga Schmutzer sebagai keluarga katolik yang taat ingin mendedikasikan tanah Jawa ini kepada Hati Kudus Yesus.

Itulah sebabnya, sebelum Candi Hati Kudus didirikan, Schmutzer bersaudara mengadakan studi banding ke beberapa candi agar selaras dengan kehadiran candi-candi sebelumnya namun  diperuntukan bagi Yesus dan Hati-Nya yang mahakudus.

Dengan tinggi sekitar 10 meter, candi ini terbagi atas 3 bagian: bagian bawah berupa pelataran, tempat umat duduk bersila untuk berdoa. Bagian tengah, di mana terdapat patung Yesus dengan Hati Kudus-Nya sedang bersemayam dan bagian atas yang melambangkan Tuhan yang Maha Tinggi.

Jika pada relung candi pada umumnya terdapat patung Budha atau arca lingga yoni, pada relung candi Hati Kudus Yesus terdapat patung Yesus yang mengenakan pakaian adat Jawa dengan rambut menyerupai pendeta Hindu dan sebuah mahkota di kepala-Nya.

Di depannya ada halaman candi yang luas dan terbuka, tempat para peziarah dan umat berdoa sebelum memasuki relung untuk bertemu dengan Hati Kudus Yesus.

Area yang luas untuk kepentingan doa dan meditasi
Penemuan Sumber Air Penuh Mukjizat

Pada 1998 ditemukan mata air pada  dasar candi Hati Kudus Tuhan Yesus ini. Sangat jernih dan dapat langsung diminum. Dipercaya memiliki khasiat menyembuhkan penyakit.

Mata air ini diberi nama Tirta Perwitasari. Tirta berarti air, adapun Perwitasari diambil dari nama orang yang pertama kali merasakan mukjizat air tersebut.

Sejak diketahui khasiat air itu, Gereja Ganjuran menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjungi dan terbuka bagi siapa saja. Bukan saja untuk orang Katolik.

Selain bangunan Gereja dan Candi, juga terdapat Stasi Jalan Salib yang bisa membantu Anda memvisualisasi jalan salib Yesus mulai pada saat ditangkap di Taman Getsemani hingga kebangkitan-Nya dari dalam kubur.

Candi Hati Kudus Yesus Ganjuran adalah rekomendasi sempurna untuk ziarah katolik Anda.

Rekomendasi Untuk Anda

Saat ini, air Tirta Perwitasari sudah dialirkan ke keran-keran yang memudahkan umat dan peziarah untuk mengambilnya. Banyak orang dapat meminum langsung dan membawa pulang air tersebut.

Sudah banyak kesaksian penyembuhan yang terjadi setelah orang pulang berziarah dan berdoa di Candi Hati Kudus Yesus Ganjuran. Bila pada mereka terjadi kesembuhan, sangat mungkin juga bagi Anda.

Jadi, agendakan Hati Kudus Yesus Ganjuran dalam daftar perjalanan ziarah Anda. Jikalau Anda beriman, maka apapun tidak ada yang mustahil.

Felix

Seorang Guru SMA, tapi pernah menjadi Tour Leader dan Tour Planer di sebuah biro perjalanan ziarah wisata Katolik. Selain Guru, mendedikasikan diri untuk menjadi seorang Blogger, khususnya ziarah wisata Katolik.

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: