Paradoks Yerusalem Kota Suci Yahudi, Kristen dan Islam

wisataziarah.com.  Yerusalem adalah Kota Suci Agama Yahudi, Kristen dan Islam. Tidak besar dan modern, tapi menjadi pusat perhatian segala bangsa di dunia. Luasnya hanya dua setengah mil persegi. Di sinilah jantung kepercayaan tiga agama wahyu. Pada postingan ini, wisataziarah.com akan mengulas Yerusalem Kota Suci Agama Yahudi, Kristen dan Islam

Yerusalem Kota Suci Agama Yahudi, Kristen dan Islam

Bagi  Yahudi,  Yerusalem adalah kota Daud, ibu kota raja-raja Perjanjian Lama. Salah satu  mata rantai kepercayaan mereka di masa lampau. 

Bagi kekristenan,  Yerusalem adalah misi pelayanan,   kematian,  kebangkitan  dan kenaikan Yesus Kristus.  Sebagian masa pelayanan Yesus dilakukan di sini. Ada banyak ssaksi sejarah hidup Yesus yang masih terpelihara, mulai dari Via Dolorosa ( Jalan Salib-Nya ) hingga Gereja Makam Suci ( the Church of Holy Sepulchre ) yang merupakan Bukit Golgota dan tempat Yesus dimakamkan. 

 Bagi  Islam,  Yerusalem adalah tempat  suci, kota yang penting sesudah Mekah dan Madinah. Setelah meninggal, Nabi Muhammad diangkat ke surga dari kota ini. Itulah sebabnya,  pada abad ke-7 orang Arab membangun sebuah masjid besar yang terkenal sebagai Qubat as-Sakhra ( The Dome of the Rock ).

 Yerusalem terkenal dengan berbagai nama dan julukan. Orang Kanani dan Amori sebelum Yahudi menamakannya kota  “Dewa Shalim”. Yerusalem juga disebut Kota Emas. Julukan ini  berdasarkan pemandangan ke kota itu yang berwarna putih keemasan ketika sinar  matahari menimpa bangunan-bangunan yang terbuat dari batu-batu pualam.

“Yerusalem” dari kata Salem artinya  kota damai kota berumur 40 abad. Hingga kini tetap menjadi pangkal permusuhan yang pahit antara Arab dan Israel.

Yerusalem Kota Damai Penuh Konfik 

Yerusalem berada pada ketinggian 2200 kaki dari permukaan laut. Terletak sekitar 28 mil di sebelah timur Laut Tengah dan 12 mil di sebelah sebelah barat Laut Mati. 

Yerusalem kuno yang kembali didirikan Raja Herodes yang berkuasa saat Yesus hidup dan berkarya

Berdasarkan penemuan purbakala tulisan-tulisan Mesir Kuno, ditemukan  bukti bahwa Yerusalem telah dimulai dibangun sekitar tahun 1900 sampai 1811 SM.  Disebutkan pula nama raja-raja Amori yang memerintah pada waktu itu sedang bermusuhan dengan Mesir. Hal itu sesuai pula dengan tulisan Kitab Suci: “Beginilah firman Tuhan Allah kepada Yerusalem: asalmu dan kelahiranmu ialah dari tanah Kanaan; ayahmu ialah orang Amori dan ibumu orang Heti ( Yehezkiel 16:3 ). 

Yerusalem Sebelum Masehi

 Yerusalem Masa Daud dan Salomo

Tatkala Daud menjadi raja Israel,  ia memindahkan ibukota dari Hebron ke Yerusalem.  Yerusalem dipilih karena kota ini terletak di perbatasan antara suku Yehuda dan suku Benyamin. Sebuah  daerah yang bebas sehingga dianggap menjadi kota damai.  Karena ditetapkan pertama kali menjadi ibukota Kerajaan Israel  dan dibangun lagi oleh Daud, maka kota ini disebut  pula Kota Daud.  

Walaupun Daud berjasa menjadikan Yerusalem sebagai ibukota, Yahwe tidak mengizinkan dia membangun Bait-Nya. Bangunan suci – Bait Allah –  baru dibangun oleh Salomo. Salomo juga  memperluas  kota Yerusalem ke sebelah utara. 

Maket Bait Allah yang didirikan Raja Salomo

Pada masa Salomo, Yerusalem adalah kota yang megah. Setelah Salomo wafat,  Yerusalem kehilangan kemegahannya. Pada zaman Raja Rehabeam,  raja Sisak dari Mesir menyerang dan  mengalahkan Yerusalem.

Yerusalem Setelah Salomo

Pada tahun 586 SM, ketika Yerusalem diperintah oleh raja Zedekiah, kota itu dikepung dan dikalahkan oleh Babel.  Semua penduduk Yehuda ditawan ke  negeri Babel. Limapuluh tahun lamanya dan  Yerusalem terbiarkan begitu saja  menjadi reruntuhan. 

Setelah pembuangan ke Babel, rombongan pertama orang Yahudi kembali ke Yerusalem di bawah pimpinan Zerubabel. Mereka berusaha membangun kembali Yerusalem. Namun mereka mendapatkan banyak rintangan dan halangan dari orang-orang Samaria. Selanjutnya, rombongan kedua di bawah pimpinan Nehemia dan Ezra juga kembali ke Yerusalem. Mereka membangun kembali Bait Allah tahun 515 SM dan tembok kota tahun 446 SM. 

Setelah Nehemia, tidak banyak diketahui tentang sejarah Yerusalem. Namun menurut Yosephus,  ahli sejarah kuno, waktu itu Yerusalem telah menjadi tempat perkelahian hebat bahkan terjadi pembunuhan dalam Bait Allah.

Yerusalem Sesudah Masehi

Masa Pemerintahan Romawi Kafir

Tahun 63 SM Jendral Pompeius mengepung dan menaklukan Yerusalem. Ketika Herodes Agung menjadi Raja orang Yahudi, ia memulihkan kembali Bait Allah dan membangun Yerusalem.

Namun, upaya melakukan pemberontakan kelompok Yahudi mengakibatkan Yerusalem dihancurkan Romawi di bawah pimpinan . Jendral Titus dengan kekuatan 800 tentara. Bait Allah juga benar-benar dihancurkan. Paling tidak 100.000 orang Yahudi dibinasakan dalam peristiwa itu.

Nasib Yerusalem yang malang semakin terpuruk pada masa Kaisar Hadrianus. Kota itu benar-benar dihancurkan. Orang-orang Yahudi dilarang tinggal dalam. Ini adalah buntut dari upaya pemberontakan Yahudi dipimpin Bar Kokhba tahun 132 – 135.

Di atas reruntuhan kota suci Yerusalem, didirikan kota baru yang sepenuhnya tidak suci. Yerusalem diganti namanya menjadi Aelia Capitolina.  Sejak saat itu pula tanah suci diberi nama Palestina ( dari kata Filistin – yang sulit dilafalkan orang Romawi ). 

Yerusalem Masa Konstantinus dan Kalifah Islam

Awal abad ke-4, setelah Kaisar Konstantinus menjadi Kristen, Yerusalem mulai mendapatkan perhatian. Ibunya, St. Helena mengunjungi tanah suci tahun 326. Konstantinus dan Helena sepenuhnya mendukung pembangunan Gereja Makam Suci dan Gereja Bukit Zaitun yang sudah dinajiskan oleh Kaisar Hadrian. 

Namun, tahun 638,  Yerusalem jatuh ke tangan orang Arab di bawah pimpinan Kalif Omar. Sejak saat itu,  Yerusalem berada di bawah kekuasaan kaum muslim. Di situs Bait Allah Salomo  dibangun sebuah masjid dengan kubah yang  keemasan, yaitu The Dome of the Rock dan masjid Al-Aqsa di sebelah selatan. 

Tahun 1099, tentara Salib dari Eropa berhasil menguasai Yerusalem dan membebaskan tempat-tempat suci Kristen dari tangan Islam. Namun tahun 1187, orang Islam di bawah Saladin berhasil merebut kembali Yerusalem dan seluruh Tanah Suci. 

Selanjutnya, banyak kekalifahan Islam silih berganti menguasai tanah suci dan Yerusalem. Namun keadaan Yerusalem semakin suram.  Bahkan pada pertengahan abad ke-19, penduduknya hanya mencapai 11 ribu saja.

Namun demikian, pada saat itu orang-orang Yahudi yang telah ratusan tahun terpencar ke seluruh dunia mulai kembali ke Tanah Terjanji dan Yerusalem sedikit demi sedikit sehingga menjadi banyak. 

Ironi Yerusalem Kota Damai: diperebutkan oleh Arab yang menguasai Yerusalem Timur seakan waktu berhenti. Sementara Yahudi terus mengintip dan mengintimidasi dari barat lewat pembangunan kota yang TSM: terstruktur – sistematis – masif.

Yerusalem Masa Kini

Setelah Perang Dunia Kedua, tepatnya tahun 1947, oleh PBB, Yerusalem dijadikan zona internasional, namun sama sekali tidak ditepati. 

Yordania menguasai Yerusalem Lama, tempat situs tersuci orang Yahudi dan Kristen berada. Sedangkan orang-orang Yahudi membangun dan memperluas pemukiman di wilayah barat Yerusalem. 

Tanggal 5 Juni 1967, Yordania menembaki sebuah artileri ke tengah pemukiman Yahudi yang memicu perang baru. Hanya dalam waktu 48 jam, Yahudi berhasil mencaplok Yerusalem Lama dan kembali beribadah di Tembok Ratapan setelah hampir 2000 tahun terusir dari sana. 

Penutup: Yerusalem Kota Suci Agama Yahudi, Kristen dan Islam

Setelah melihat sejarahnya sepintas, harus diakui Yerusalem yang dijuluki Kota Damai sama sekali tidak menikmati kedamaian itu sepanjang perjalanannya.

 “Kalau dihitung berapa kali terjadinya perang, jumlah korban yang tewas dan luka-luka, maka Yerusalem adalah kota yang paling sedikit merasakan damai di dunia ini,”  Demikian tulis George Kent dalam Christian Herald

 Yerusalem, kota damai ternyata tidak bisa memberikan damai yang diharapkan. Wilayah itu tetap berada dalam suasana perang. Kota yang diyakini oleh berbagai latar belakang sejarah kitab suci sebagai Kota Harapan ternyata terus dipenuhi dengan intrik, peperangan, pemberontakan dan kekacauan.

Sebuah ironi yang mencekak tenggorokan: Yerusalem Kota Suci Agama Yahudi, Kristen dan Islam penuh dengan perebutan kekuasaan dan pertumpahan darah.

Entah sampai kapan. Kita tidak tahu.

 Benar, nubuat Yesus atas Yerusalem: “ Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Lihat  rumahmu ini akan ditinggalkan menjadi sunyi. (Mat 23: 37-38). 

Felix

Seorang Guru SMA, tapi pernah menjadi Tour Leader dan Tour Planer di sebuah biro perjalanan ziarah wisata Katolik. Selain Guru, mendedikasikan diri untuk menjadi seorang Blogger, khususnya ziarah wisata Katolik.

4 thoughts on “Paradoks Yerusalem Kota Suci Yahudi, Kristen dan Islam

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: